Bertempat di Balai Desa, KSM Peduli Mulia melakukan pemberdayaan 25 penyandang cacat fisik maupun intelektual melalui kegiatan membatik.Para pendamping yang berjumlah 10 orang ini mengarahkan, mengajari teknik batik ciprat, suntik maupun melukis menggunakan canting sambil mengajari pendidikan dasar tentang kebersihan dan kemandirian. Para pendamping harus bersabar karena sering muka mereka menjadi sasaran ciprat dan semprot para pembatik istimewa jika lagi tidak ‘mood’ bekerja. Mereka mengeluhkan tiadanya tempat permanen untuk berkarya karena tempat produksi mereka numpang di gedung balai desa Resapombo. Jika balai desa digunakan, maka produksi terhenti dan para siswa ini duduk-duduk di luar memunggu hingga rapat selesai. Mereka berharap bantuan untuk mendirikan gedung seluas 7X12 M ditanah milik Desa.

Mereka mengembangkan batik motif kayu dengan warna dasar kecoklatan yang khas yang Dinas Sosial akan menguruskan hak patennya. Pesanan batik motif ini tidak pernah sepi, dinas-dinas maupun lembaga-lembaga lain di kabupaten sering memesan untuk keperluan seragam maupun souvenir bagi para tamu. Selain melayani pesanan khusus, para pengurus KSM Peduli Mulia juga rajin ikut pameran UMKM tingkat kabupaten maupun propinsi.
“Kami membutuhkan tempat untuk produksi, sekaligus untuk interaksi sesama penyandang disabilitas beserta keluarga mereka masing-masing yang kelak bisa menjadi pendamping yang terampil. Jadi, membatik adalah kegiatan produksi sekaligus membangun relasi dan edukasi untuk ketrampilan hidup dasar,” kata ibu Anisa salah satu pendamping. Tiadanya SLB di daerah tersebut menjadikan pentingnya keberadaan gedung ini untuk berbagai aktivitas bagi kel disabilitas termasuk untuk menambah kapasitas produksi sehingga bisa melibatkan 23 siswa lainnya yang belum tertangani.